Carilah Kepedihan

“Happiness is not the absence of problems but the ability to deal with them”

Kebahagiaan itu bukan dengan ketiadaan berbagai problem tetapi kemampuan mengatasi problem-problem tersebut” (Anonymous)

 “Hal penting tentang problem adalah bukan jalan keluarnya, tetapi adalah kekuatan yang kita peroleh ketika kita menemukan jalan keluarnya

 Itulah mengapa Stephen R. Covey, penulis buku laris “The Seventh Habit” mengatakan, “The way we see the problem is the problem”, Cara kita memandang problem itu sendiri merupakan problem.

 Jadi, pola pandang kita terhadap problem sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan kebahagiaan kita. Jika memandang problem semata-mata sebagai sebuah masalah yang mengganggu hidup kita maka jelas problem-problem itu benar-benar menjadi penghalang kebahagiaan kita dan mengganggu hidup kita.

 Namun jika kita memandang sebaliknya – melihat dari sisi positif – kita justru menemukan banyak hal positif ketika kita sedang berusaha menemukan jalan keluarnya. Inilah yang disebut sebagai the strength, kekuatan yang membuat kita menjadi lebih dewasa, lebih ‘arif, dan lebih tangguh.

 Problem-problem yang kita hadapi merupakan latihan bagi jiwa dan pikiran kita agar kita menjadi lebih matang dan lebih kuat. Imam Ali as mengistilahkannya sebagai gharbalah atau saringan. Beliau mengatakan, “Demi Yang Mengutusnya (Muhammad Saw) dengan kebenaran, Anda benar-benar akan dicampurbaurkan (latubalbalunna balbalah) dan kemudian dipisahkan dalam saringan (latugharbalunna gharbalah) (ujian dan penderitaan)” (Nahjul Balaghah hal. 57, Khutbah ke 16, Subhi Shalih)

 Kesusahan, kesulitan dan penderitaan merupakan pengantar kesempurnaan dan kemajuan. Cambukan-cambukkan hidup justru akan melahirkan gerakan, potensi dan gairah semangat. Seperti yang dikatakan

Mawlawi Rumi :

Sesuatu itu tersembunyi pada kebalikannya

kehidupan tersembunyi di balik kematian dan cobaan

Rumi mengatakan bahwa sesuatu itu tersembunyi pada kebalikannya, maka kebahagiaan sejati pun tersembunyi di balik semua penderitaan dan musibah. Kesulitan dan bencana merupakan keharusan bagi kesempurnaan manusia.

 Sekiranya cobaan dan penderitaan itu tidak ada niscaya tidak akan ada pula apa yang disebut al-insan atau manusia. Al Qur’an mengatakan, “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam kepayahan” (QS Al-Balad [90] : 4)

Bahwa Allah menciptakan manusia di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan. Dengan demikian manusia harus menanggung kesulitan dan menghadapi bencana dan musibah, sehingga ia dapat meraih eksistensi yang layak untuknya. (Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, hal. 143, Penerbit Mizan, Cet I, Sept 1992)

 Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi mengatakan :

Segenap eksistensi adalah kemudahan, sedangkan kemudahan adalah rahmat.

 Imam Ali as berkata, “Sesungguhnya pohon-pohon di padang tandus lebih kuat batangnya, sedangkan yang hijau menawan jauh lebih lunak. Demikian pula kayu pepohonan di tempat-tempat yang gersang lebih kuat nyala apinya dan lebih lambat padamnya.” (Muhammad al-Baqir, Mutiara Nahjul Balaghah, hal. 93-95, Syarif Radhi, Nahjul Baghah, surat ke 45.)

Semakin Anda matang, dewasa, dan ‘arif, maka semakin mudah Anda menemui kebahagiaan. Sebaliknya, kemudahan-kemudahan membuat kita menjadi lemah, membuat kita tak dapat mengenali masalah-masalah baru.

 Charles F. Kettering mengatakan, “Problems are the price of progress. Don’t bring me anything but trouble. Good news weakens me.” : “Problem-problem (kita) adalah harga dari kemajuan. Jangan berikan aku sesuatu pun kecuali kesulitan. Berita baik membuatku menjadi lemah”.

Norman Vincent Peale juga mengatakan, “Kita berjuang dengan kerumitan-kerumitan dan menghindari hal-hal sederhana dan mudah”.

 Dan Imam kita, Ali bin Abi Thalib as berujar,”Pohon-pohon yang tumbuh di padang tandus atau di hutan liar, yang tidak diawasi dan tidak dipelihara, ternyata batang-batangnya lebih kuat dan usianya lebih panjang. Sebaliknya, pohon-pohon yang tumbuh di taman-taman yang selamanya dipelihara oleh tukang kebun dan senantiasa dirawat ternyata lebih rentan di dalam menghadapi kesulitan dan usianya lebih pendek”. Inilah salah satu dari Sunatullah!

 Awas, berhati-hatilah,

Jangan mengeluh dengan dingin

atas sikap acuh tak acuhmu!

Carilah kepedihan!

Carilah kepedihan!

Kepedihan, kepedihan!
(Rumi, Matsnawi, VI, 4303-4304)

Posted on Juli 23, 2011, in Nasehat and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: