Belajar Dari Kisah Taubat Abu Nawas (2)

Taubat! Kembali ke jalan yang benar, menyesali dengan kesungguhan hati akan segenap dosa-dosa yang pernah ia perbuat, dan juga mengharap sangat akan kemurahan hati Allah untuk bisa mengampuni dosa-dosanya itu. Dan memang seperti itulah, dalam taubat ada suatu pengharapan besar akan kewelas-asihan Allah untuk bisa menerima taubatnya dan untuk bisa memberi maaf terhadap dosa-dosanya. Kepada siapa lagi sang pendosa mengharap pemberian ampun terhadap dosa-dosanya selain kepada Allah, Sang Maha Pengampun. Kepada siapa lagi sang durjana itu mengharap belas kasih untuk menghapuskan dosa-dosanya kecuali kepada Allah, Sang Maha Pengasih?

Dosa sebesar, seberat, setinggi, seluas dan setumpuk apapun, selagi seorang hamba mau dengan tulus ikhlas dan niat benar-benar bertaubat kepada Allah, pasti Allah akan menerima taubat seorang hamba tersebut. Bahkan seandainya dosa yang telah dimiliki oleh seorang hamba itu sudah tidak bisa lagi dihitung dengan bilangan, tidak bisa diukur dengan tinggi dan lebar, atau tidak bisa lagi diimbangi dengan ukuran berat badan, selagi dia dengan sungguh-sungguh datang dan menghadap kepada Allah dengan membawa sejuta penyesalan dan beri’tikad untuk benar-benar taubat pasti Allah akan menerima pertaubatan seorang hamba tersebut. Allah adalah Maha Pengampun. Dia Maha Pengasih  Lagi Maha Penyayang. Sekali-kali Dia tidak pernah menutup apalagi mengunci pintu maafnya bagi orang-orang yang benar-benar ingin mengetuknya.

Abu Nawas, lewat lantunan syairnya itu adlah sebuah gambaran dari seorang hamba yang sadar akan banyaknya dosa yang ia miliki. Dosa yang ia pikul dan ia sandang seumpama bilangan butirran-butiran pasir di lautan, sebuah perumpamaan hitungan bilangan yang tak mungkin untuk dihitung dan tak mungkin diketahui jumlah hitungannya. Berapa banyak butiran pasir di lautan itu jika dihitung? Entah, tidak tahu. Abu Nawas tidak tahu lagi berapa banyak dosa yag telah dia tumpuk. Seberat apa dosa yang telah dia pikul. Seluas apakah dosa yang telah dia hamparkan. Setinggi apakah dosa yang telah dia junjung. Entah, tidak tahu. Yang dia tahu hanyalah bahwa dia adalah seorang hamba Allah yang karena kesombongan dan kelalaiannya telah melakukan dosa yang begitu banyak. Yang dia tahu hanyalah dia kini seorang yang hina, datang mengetuk pintu Allah dan mengharap ampunan dari-Nya. Abu Nawas tahu, bahwa dosa yang kini dia miliki itu adalh sebuah dosa kepada manusia, pastilah manusia tersebut tidak akan pernah memaafkan dosanya itu. Tetapi akankah Allah seperti manusia yang tidak mau membukakan pintu maafnya kepada seorang dengan segenap penyesalannya, bersimbah tangis, bersujud mengharapkan ampunan akan dosa-dosanya itu?

Penyesalan sering kali menjadikan seorang manusia berlinangan air mata, sebab penyesalan selalu jatuh di kemudian hari. Dalam penyesalan ada kesadaran. Dan seperti itulah seorang Abu Nawas yang menyesal telah sadar bahwa tiap detik yang berlalu dari hidupnya, lambat laun dan berlahan-lahan namun pasti,secara sedikit demi sedikit telah menggerogoti usianya. Ibarat sebuah perjalanan panjang, semakin hari dia tidak semakin jauh dari tempat tujuan, tetapi semakin hari dia semaki dekat dengan tempat tujuannya. Kemanakah tempat akhir dari tujuan perjalanan hidup itu kalau tidak ada kemetian?

Abu nawas sadar bahwa hari demi hari telah menjadikan dia semakin dekat dengan kematian. Semakin hari dia semakin dekat dengan tempat tujuan akhir dari perjalanan hidupnya. Tetapi, semakin jauh dia melangkah mendekati tempat tujuan akhir perjalanan tersebut, ternyata semakin banyak pula telapak-telapak dosa yang dia tinggalkan. Umurnya semakin berkurang setiap hari, sementara dosanya semakin bertambah setiap detik. Bagaimanakah dia harus menanggung beban dosanya kelak di hari Kiamat?

Oh Tuhan, sepenuhnya aku sadar akan banyaknya dosaku. Aku adalah seorang hamba pendosa, seorang hamba laknat yang durjana dipenuhi lumpur-lumpur dosa, kini telah datang dengan perasaan malu tak terkira. Aku datang pada-Mu dengan memikul berat beban dosa yang membuatku terseok-seok dalam perjalanan menuju tempat-Mu. Aku datang pada-Mu dengan keadaan diri masih kotor, dengan segenap jiwa yang masih belum bersih dan dengan roh dimana nafas-nafasnya sekali menghembuskan bau busuk dosa. Aku datang pada-Mu bersama simbahan air mata yang walau dengan itu Kau tak percaya. Aku datang bersama jeritan hati yang selalu meronta-ronta di pagi hari. Aku yang memanggil-manggil nama-Mu di sore hari, yang selalu melantunkan jeritan-jeritan penyesalan di malam hari. Aku datang pada-Mu, tuhan dengan sebuah sujud sebagai ras hinakupada-Mu. Aku datang pada-Mu dengan hamparan sajadah yang mungkin dengan itu bisamenerbangkan aku ke tempat-Mu. Aku datang pada-Mu dengan membawa butiran-butiran biji tasbih yang dengan itu aku sebut nama-Mu.

Aku datang pada-Mu, Tuhan. Mengetuk pintu maaf-Mu dan mengharapkan pengkabulan pertaubatanku. Tuhan, sekiranya engkau tidak mau membukakan pintu maaf-Mu, dan sekiranya Engkau tidak sudi menerima pertaubatanku, kepada siapa lagi hamba-Mu yang hina ini nanti menggantungkan harapannya?

Sumber : Jalan Menuju Makrifatullah Dengan Tahapan (7M), Karya Ust. Asrifin S.Ag

Posted on Juli 20, 2011, in Artikel, Nasehat and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: